7+ Kumpulan Cerita Masa Kecil Singkat, Lengkap dan Bikin Kamu Tersenyum

Cerita masa kecil di desa ku. Sebuah cerita yang tidak akan pernah aku lupakan. Satu masa ketika aku memakai seragam putih merah di pagi hari, dan seragam coklat-coklat di sore hari. Bersekolah di waktu pagi dan bermain lumpur di sore hari.

Kumpulan Cerita Masa Kecil

Perang hujan meteor, permainan yang biasa aku lakukan sepulang sekolah di musim hujan. Ladang padi yang baru selesai dipanen atau dibajak menjadi lokasi peperangan. Sebuah permainan yang tidak bisa orang tuaku larang. Saling lempar dengan media tanah sawah adalah permainan yang menyenangkan bagi anak desa yang jauh dari kemajuan zaman.

Sabtu Pagi di Musim Hujan

Sabtu Pagi di Musim Hujan
Sabtu Pagi di Musim Hujan

Teringat jelas dalam memori otak ku. Awan mendung di Sabtu pagi. Aku memakan dua porsi sarapan pagi itu. Semangkuk bubur hangat ditemani tugas menggambar SBK (Seni Budaya dan Keterampilan) yang belum aku kerjakan. Satu suap bubur dicampur dengan beberapa gerakan menggambar tugas yang harus dikumpulkan.

Semangat tinggi membuatku ingin segera berangkat sekolah setelah sarapanku habis. Hujan semalam membuat jalan menuju sekolah masih basah. Baju hangat dan payung menjadi bekal tambahan ku di musim hujan. Aku pamit sekolah pada ibu dan ayahku yang sedang menyiapkan keperluan untuk berjualan di pasar.

Momen Menggemaskan dari Masa Kanak-Kanak

Momen Menggemaskan dari Masa Kanak-Kanak Deskripsi
Menangis saat ditinggal orang tua Anak-anak sering menangis saat orang tua pergi bekerja atau meninggalkan mereka untuk sementara waktu.
Belajar berjalan dan jatuh Anak-anak belajar berjalan dan sering jatuh saat mencoba untuk berdiri dan berjalan.
Berkata lucu dan menggemaskan Anak-anak sering mengatakan hal-hal lucu dan menggemaskan yang membuat orang dewasa tertawa.
Meniru perilaku orang dewasa Anak-anak sering meniru perilaku orang dewasa seperti berbicara di telepon atau memakai pakaian orang dewasa.
Bermain dengan mainan Anak-anak senang bermain dengan mainan seperti boneka, mobil-mobilan, dan balon.

Selain kenangan lucu, ada juga banyak momen menggemaskan yang dapat diingat dari masa kanak-kanak. Salah satu momen menggemaskan yang selalu membuat hati saya hangat adalah ketika adik perempuan saya pertama kali belajar berjalan. Dia masih sangat kecil saat itu, tapi dia begitu bersemangat dan penuh semangat saat mencoba langkah-langkah pertamanya.

Sisa Hujan Semalam

Sisa Hujan Semalam
Sisa Hujan Semalam

Pelan tapi pasti dengan langkah berhati hati. Jalan yang bergelombang membuat sisa air hujan menggenang di sepanjang jalan menuju sekolah. Sesekali aku harus mengangkat celana merah ku agar tidak terkena air cipratan langkah ku. Sesampainya aku di sekolah, rasanya energi sarapan bubur tadi sudah hilang karena lompatan kecil melangkahi genangan air sepanjang jalan.

Langkahku langsung tertuju ke ruangan kelas 3. Tempat aku dan teman-temanku belajar selama satu tahun pelajaran. banyak temanku yang sudah datang dan duduk di kursi masing-masing. Awalnya aku bangga melihat kejadian itu dari luar kelas. Ternyata begitu masuk, mereka sedang mengerjakan tugas SBK yang belum selesai. Rasa banggaku tadi langsung hilang entah kemana.

Deni teman sebangku ku sudah selesai mengerjakan tugas. Kami pun duduk dan berbincang sambil menunggu bel masuk berbunyi. Deni mengajak ku bermain hujan meteor nanti sore. Aku menyarankan agar rencana ini dibahas di jam istirahat. Tugas SBK yang akan dikumpulkan nanti jadi topik pengganti kami pagi itu.

Cerita Lucu Yang Menghangatkan Hati



Selain cerita-cerita lucu biasa, ada juga cerita-cerita lucu yang dapat membuat hati tersenyum. Salah satu cerita lucu yang menghangatkan hati saya adalah ketika adik laki-laki saya mencoba meniru gerakan tarian favoritnya di depan seluruh keluarga saat sedang makan malam. Meskipun gerakannya tidak sempurna, dia melakukannya dengan begitu semangat dan penuh kegembiraan sehingga semua orang terhibur.

Rencana Perang

Rencana Perang
Rencana Perang

Bel istirahat berbunyi pada jam 10.00 tepat. Tidak seperti biasanya, siswa kelas 3 tidak ada yang meninggalkan kelas untuk jajan atau bermain. Semuanya menghampiri meja Ujang, siswa yang multi talent di kelas ku.

Ujang membuat rencana bermain nanti sore. Perang hujan meteor menjadi permainan yang disukai semua murid di sabtu sore. Pasalnya, orangtua kami tidak akan melarang kami untuk kotor-kotoran di sawah karena besok hari libur.

Kami sepakat untuk bermain di sawah milik orangtua Ujang. Kebetulan lokasinya strategis dari rumah kami. Permainannya adalah kucing-kucingan dengan media tanah sawah yang dibulatkan. Tempatnya pun di tengah sawah yang baru selesai panen atau dibajak.

Satu hal yang paling menarik adalah ketika menjelang pulang. Semua orang bebas melemparkan bola lumpur pada siapa saja. Cuaca hujan atau mendung akan sangat mendukung keseruan permainan ini. Tempat dan orang yang akan bermain sudah ditetapkan. Sisanya tinggal menunggu dukungan cuaca nanti sore.

Menunggu Sebuah Kepastian

Menunggu Sebuah Kepastian
Menunggu Sebuah Kepastian

Jarum panjang menunjukkan jam 11 siang. Bel pulang berbunyi diiringi teriakan murid SD yang sudah kebelet pulang. Aku meninggalkan kelas sambil memberi kode tangan untuk acara nanti sore. Deni, Ujang dan temanku yang lain mengangguk tanda mengerti.

Setelah sholat dzuhur, langit masih terlihat cerah dengan panas matahari yang tidak terlalu menyengat. Harap cemas menghampiri pikiranku. Aku tidak ingin acara nanti sore gagal karena cuaca yang tidak mendukung. Pesimis melihat cuaca saat itu, tapi optimis karena sedang musim hujan.

Akhirnya Hujan Turun

Setelah ashar, aku dan Deni duduk di teras masjid. beberapa saat kemudian langit mulai mendung. Gerimis datang mendadak menghujani desa ku.

Kaum Ibu sibuk mengangkat pakaian yang sedang dijemur dengan wajah cemas dan tergesa-gesa. Aku dan Deni mempunyai ekspresi yang 180 derajat berbeda. Kami tersenyum dan pulang ke rumah bersiap menuju sawah tempat permainan akan dilaksanakan.

Belum selesai memakai celana, Deni sudah memanggil ku dari luar rumah. “Ali, hayu!” (Ali, ayo!). Teriak Deni sambil menepuk tangannya seolah menyuruh ku untuk cepat keluar rumah. Aku pamit pada orangtua dan berlari keluar dengan baju yang belum sempurna aku pakai.

Hujan Meteor di Tengah Sawah

Hujan Meteor di Tengah Sawah
Hujan Meteor di Tengah Sawah

Aku dan Deni berlari menuju sawah tempat kami akan bermain. Hujan yang semakin deras membuat rasa senang kami semakin besar. Langkah kaki kami semakin cepat karena ingin segera sampai di sawah. Aku melihat dari kejauhan Ujang dan temanku yang lain sudah menunggu di sawah.

Kami semakin mempercepat lari di atas pematang sawah. Sesampainya kami di sawah, kami langsung melakukan hompimpa untuk mengundi siapa yang jaga. Orang yang jaga akan mengejar pemain lain dengan bola tanah di tangan. Jika lemparannya mengenai pemain lain maka orang itu jaga, dan begitu seterusnya.

Permainan pun dimulai, Ruslan jadi orang yang pertama jaga. Temanku langsung berlari menjauh, Ruslan menghitung sampai 10 dan permainan pun dimulai. Kami berlari menghindari Ruslan di satu petak sawah ukuran 20 x 15 meter. Selama bermain, kami tidak boleh keluar dari petakan sawah tersebut.

Lelah yang Terlupakan

Lelah yang Terlupakan
Lelah yang Terlupakan

Belum setengah jam kami bermain, pakaian kami sudah berubah warna menjadi coklat tanah. Beberapa kali kami terjatuh saat berlari.

Tanah sawah yang selesai dibajak memang menyulitkan langkah kaki kami. Curah hujan semakin lama semakin lebat. Kami terus berlari menghindari bola lumpur tanpa menghiraukan rasa lelah yang kami rasakan.

Hari kian gelap, puji-pujian yang menandakan waktu hampir maghrib terdengar dari masjid. Sebuah alarm pengingat supaya kami segera berhenti bermain. Ujang meminta kami segera berkumpul di tengah sawah. Inilah saat yang paling kami tunggu. Puncak permainan yang selalu kami tunggu.

Jarak sawah orangtua Ujang ke jalan sekitar 400 meter. Setiap kami pulang, kami lomba lari sambil saling lempar bola lumpur. Inilah yang kami beri nama hujan meteor. Kali ini tidak ada orang yang jaga. Semuanya akan saling lempar tanpa pandang bau, maksud ku pandang bulu.

Hujan Meteor yang Sebenarnya

Hujan Meteor yang Sebenarnya
Hujan Meteor yang Sebenarnya

Peraturan permainan kami sebelum pulang ini sedikit berbeda. Pertama, kami membuat lingkaran dengan jarak antar pemain sekitar satu lencang kanan. Kemudian kami berputar di tempat sebanyak 10 putaran. Lumayan memusingkan untuk kami yang masih kelas 3 SD waktu itu.

Sepuluh putaran selesai dilakukan, permainan pun dimulai. Kepala yang masih pusing membuat beberepa temanku terjatuh dan jadi sasaran lemparan bola lumpur. Selanjutnya kami berlari meninggalkan sawah menuju arah yang berbeda. Bola lumpur tanpa henti dilempar dari depan ke belakang, begitu pula sebaliknya.

Hujan meteor lumpur terjadi sangat cepat hingga semua orang keluar dari sawah menuju jalan desa. Suara tawa menjadi akhir permainan kami sore itu. baju yang sudah full colour terkena lumpur menjadi oleh-oleh kami menuju rumah. Biasanya kami membersihkan lumpur di kolam warga yang banyak terdapat di desa.

Seminggu Lagi, Teman

Seminggu Lagi, Teman
Seminggu Lagi, Teman

Permainan yang selalu membuat aku tertawa bahagia ini tidak bisa dilakukan setiap hari. Ini adalah agenda mingguan. Tidak ada orangtua yang mengijinkan anaknya bermain lumpur setiap hari. Hari sabtu adalah pengecualian karena besok hari libur. Lagi pula tidak ada Ibu yang mau mencuci pakaian anaknya yang berlumpur setiap hari.

Setelah perang lumpur itu, aku dan temanku mulai terpisah. Kami berkelompok sesuai arah rumah masing-masing. Kolam orangtua Deni menjadi lokasi aku dan beberapa temanku membersihkan lumpur. Kami selalu berpisah dengan ucapan yang sama setiap sabtu sore “saminggu deui, lamun hujan” (seminggu lagi, kalau hujan).

Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan

Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan
Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan

Itulah cerita masa kecil ku yang menyenangkan. Bermain lumpur bersama teman di tengah sawah yang tidak banyak orang bisa lakukan. tertawa dan ditertawakan adalah hal yang biasa.

Tertawa karena melihat temanku terjatuh saat berlari, atau bahkan jika temanku terkena bola lumpur. Apalagi ketika mengenai wajah, permainan bisa berhenti sesaat karena tawa yang tak tertahankan.

Itulah salah satu cerita masa kecil ku di desa. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Jika kalian ingin tahu bagaimana pengalaman masa kecil ku yang mungkin tidak kalian alami.

Cerita Masa Kecil

FAQs

Apa itu Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil?

Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil adalah artikel yang berisi kumpulan cerita lucu dan menggemaskan dari masa kecil yang dapat membuat pembaca tersenyum.

Apa tujuan dari artikel Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil?

Tujuan dari artikel Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil adalah untuk menghibur pembaca dengan kumpulan cerita lucu dan menggemaskan dari masa kecil.

Apa saja jenis cerita yang terdapat dalam artikel Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil?

Jenis cerita yang terdapat dalam artikel Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil antara lain cerita lucu, cerita menggemaskan, dan cerita lucu dan menggemaskan.

Dapatkah artikel Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil dibaca oleh semua kalangan usia?

Ya, artikel Cerita Lucu dan Menggemaskan dari Masa Kecil dapat dibaca oleh semua kalangan usia karena tidak mengandung konten yang tidak pantas.

Dapatkah pembaca berkontribusi dengan mengirimkan cerita lucu dan menggemaskan dari masa kecil mereka?

Tidak, pembaca tidak dapat berkontribusi dengan mengirimkan cerita lucu dan menggemaskan dari masa kecil mereka karena artikel ini hanya berisi kumpulan cerita yang telah dipilih oleh penulis.